Dear God

Selasa, 01 Maret 2011

IT & ICT Dalam Kurikulum Pembelajaran Biologi

BAB I
PENDAHULUAN

Guru sebagai pendidik sekaligus sebagai pengajar merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan setiap upaya peningkatan pendidikan yang diamanatkan di dalam kurikulum. Pada setiap inovasi pendidikan yang direfleksikan melalui pengembangan kurikulum mupun perubahan kurikulum dan peningkatan sumber daya manusia yang dihasilkan dari upaya pendidikan selalu bertitik-tumpu pada guru. Karena guru-lah sebagai ‘ujung tombak’ yang menentukan berhasil tidaknya maupun maju mundurnya pendidikan di suatu negara. Hal ini menunjukkan betapa eksisnya peran guru dalam dunia pendidikan. Guru yang profesional diantaranya adalah guru yang mempunyai rasa percaya diri, mempunyai semangat belajar yang tinggi, mempunyai keseriusan saat mengajar, dan dapat membangkitkan semangat dan motivasi siswa untuk belajar (Usman, 2002). Dan menurut Undang-undang guru dan dosen No. 14 tahun 2005 guru professional adalah guru yang mempunyai kompetensi paedagogik (merencanakan, melaksanakan dan melaksanakan evaluasi pembelajaran), kompetensi profesional (materi subjek, ICT dan PTK), kompetensi kepribadian (tauladan, evaluasi kinerja sendiri dan menerima kritik) dan kompetensi sosial (berkomunikasi, berkontribusi terhadap pengembangan pendidikan dan memanfaatkan ICT). Untuk menjadi guru professional sesuai yang diuraikan di atas tentu memerlukan upaya yang tidak mudah dari guru.
    Berkenaan dengan kompetensi profesional dan kompetensi sosial yang disebutkan sebelumnya, guru dituntut untuk bisa memberikan penjelasan materi tidak hanya dengan lisan ataupun pengamatan yang dibebankan kepada siswa, tetapi guru juga harus mampu menggunakan komputer (IT dan ICT) di dalam pembelajaran dan komunikasi verbalnya kepada siswa. Guru profesional sudah selayaknya mampu menguasai IT dan ICT di tengah derasnya arus globalisasi saat ini.
    Pentingnya penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran biologi dewasa ini seakan sudah tidak terbantahkan lagi. Dahulu, boleh saja pembelajaran biologi cukup dijelaskan tentang konsep-konsep maupun teori-teori melalui penjelasan verbal ataupun dengan melakukan pengamatan praktikum. Namun sekarang, bantuan komputer sangat dibutuhkan untuk bisa mennyelenggarakan pembelajaran biologi yang baik serta menarik bagi siswa. Yang terpenting lagi dengan majunya teknologi informasi, guru bisa terus memperbaharui materi ajar up to date yang disesuaikan dengan perkembangan yang ada sekarang karena mudahnya untuk mengakses informasi.
    Pada akhirnya, IT dan ICT harus mendapatkan porsi yang signifikan di dalam pengembangan kurikulum yang bersifat dinamis, inovatif, dan responsif khususnya dalam pembelajaran biologi. Jika tidak, maka bukan mustahil dunia pendidikan di Indonesia akan mengalami ketertinggalan yang semakin jauh dari negara-negara lain di dunia. Dengan mengintegrasikan IT dan ICT di dalam kurikulum, perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat bukan hanya sekadar mejadi produk zaman, tetapi dapat dimanfaatkan langsung untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui kurikulum yang mampu mengakomodir pembelajaran yang baik lagi ideal bagi siswa, serta peran guru yang profesional yang cakap dalam menggunakan teknologi.














BAB II
PEMBAHASAN

A.    IT (Information Technology) dan ICT (Information Communication Technology)
Dunia digital atau komputer atau sekarang orang menyebutnya dengan ICT (Information Communication Technology) telah memaksa kita mengubah seluruh aspek kehidupan, termasuk kehidupan belajar di sekolah dan kuliah atau semua orang yang terlibat langsung atau tidak langsung di dalam pembelajaran (Suhil Achmad, 2008).
Teknologi Informasi dilihat dari kata penyusunnya adalah teknologi dan informasi. Teknologi informasi adalah hasil rekayasa manusia terhadap proses penyampaian informasi dari bagian pengirim ke penerima sehingga pengiriman informasi tersebut akan lebih cepat, lebih luas sebarannya, dan lebih lama penyimpanannya. Teknologi Informasi, meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Teknologi Komunikasi merupakan segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. Karena itu, Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi adalah suatu padanan yang tidak terpisahkan yang mengandung pengertian luas tentang segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, dan transfer/pemindahan informasi antar media. Teknologi informasi juga didefinisikan sebagai teknologi pengolahan dan penyebaran data menggunakan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software), komputer, komunikasi, dan elektronik digital. Istilah teknologi informasi mulai populer pada akhir tahun 70-an. Sebelumnya istilah teknologi informasi biasa disebut teknologi komputer atau pengolahan data elektronis (electronic data processing).
IT atau Information Technology memberikan kontribusi yang luar biasa dalam hal penyebaran materi informasi ke seluruh belahan dunia. IT merupakan suatu alat globalisator yang luar biasa, salah satu instrumen vital untuk memicu time-space compression, karena kontaknya yang tidak bersifat fisik dan individual, maka ia bersifat massal dan melibatkan ribuan orang. Bayangkan hanya dengan berada di depan komputer yang terhubung dengan internet, kita bisa terhubung ke dunia virtual global untuk ‘bermain’ informasi dengan ribuan komputer penyedia informasi yang kita butuhkan, yang juga terhubung ke internet pada saat itu.
    IT dan ICT sendiri sebagai sebuah produk kemajuan zaman yang serba modern, telah banyak mengubah wajah dunia dan kehidupan manusia secara langsung. Sebuah fenomena baru tengah terjadi dan berlangsung dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak hanya kaum intelektual ataupun golongan eksklusif yang selama ini selalu dekat dan mampu menjangkau dunia digital sebagai bagian dari gaya hidup mereka. Namun, fenomena yang terjadi dewasa ini adalah kita dengan begitu gampangnya mendapati sekelompok komunitas maupun individu-individu yang tengah terlarut asik sedang berinteraksi dengan dunia digital. Tidak hanya orang dewasa yang mengonsumsi dunia digital dalam sebahagian aktivitas hidupnya, melainkan anak-anak juga sudah sedemikian akrabnya dengan kata komputer dan internet sebagai perwujudan nyata dari IT dan ICT. Facebook dan twitter bukan lagi sesuatu yang asing bahkan sudah menjadi makanan pokok bagi sebagian anak-anak dan remaja di dunia, khususnya di Indonesia. Bahkan sering kita mendengar banyak orang tua yang merasa resah karena anaknya seperti sedang ‘ketergantungan’ dengan dunia virtual mereka sendiri.
    Segala aspek kehidupan sepertinya telah disusupi perkembangan IT dan ICT, termasuk di dalamnya dunia pendidikan. Pesatnya perkembangan IT, khususnya Internet memungkinkan pengembangan layanan informasi yang lebih baik dalam bidang pendidikan. Pemanfaatan IT dalam bidang pendidikan bertujuan untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan, sehingga tersedia layanan informasi yang lebih baik untuk peserta didik. Layanan pendidikan dapat dilaksanakan melalui sarana internet. Misalnya berupa penyediaan materi pembelajaran secara online dan materi tersebut dapat diakses oleh siapa saja yang membutuhkan. Kondisi pemanfaatan IT dalam bidang pendidikan pada saat ini, baru memasuki tahap mempelajari kemungkinan untuk pengembangan dan penerapan IT tersebut. Secara teori, terdapat banyak manfaat dan kemudahan yang dapat dirasakan dengan pemanfaatan IT.

B.    Pembelajaran Biologi
Biologi (ilmu hayat) adalah ilmu mengenai kehidupan. Istilah ini diambil dari bahasa Belanda "biologie", yang juga diturunkan dari gabungan kata bahasa Yunani, bios (hidup) dan logos (lambang, ilmu). Dahulu sampai tahun 1970-an digunakan istilah ilmu hayat (diambil dari bahasa Arab, artinya ilmu kehidupan). Ilmu Biologi dirintis oleh Aristoteles, ilmuwan berkebangsaan Yunani. Dalam terminologinya, "filosofi alam" adalah cabang filosofi yang meneliti fenomena alam, dan mencakupi bidang yang sekarang disebut sebagai fisika, biologi, dan ilmu pengetahuan alam lainnya.
Mata Pelajaran Biologi berdasarkan Standar Isi (SI) masuk dalam rumpun mata pelajaran IPA dan kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) memiliki beberapa karakteristik yaitu: 
1.    Mempelajari permasalahan yang berkait dengan fenomena alam, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, Fenomena alam dalam mata pelajaran Biologi dapat ditinjau dari objek, persoalan, tema, dan tempat kejadiannya.
2.    Struktur keilmuan Biologi menurut BSCS (Biological Science Curriculum Study), Biologi memiliki objek berupa kerajaan/kingdom: (a) Plantae (tumbuhan), (b) Animalium (hewan), dan (c) Protista. Ketiga objek tersebut dikaji dari tingkat molekul, sel, jaringan dan organ, individu, populasi, komunitas, sampai tingkat bioma. Adapun persoalan yang dikaji meliputi 9 tema dasar yaitu: (a) Biologi (sains) sebagai proses inkuiri/penemuan (inquiry), (b) sejarah konsep biologi, (c) evolusi, (d) keanekaragaman dan keseragaman, (e) genetika dan keberlangsungan hidup, (f) organisme dan lingkungan, (g) perilaku, (h) struktur dan fungsi, dan (i) regulasi.
3.    Pembelajaran Biologi memerlukan kegiatan penyelidikan/eksperimen sebagai bagian dari kerja ilmiah yang melibatkan keterampilan proses yang dilandasi sikap ilmiah. sikap ingin tahu, dengan kerja ilmiah untuk memanfaatkan fakta, membangun konsep, prinsip, teori, dan hukum. Melalui kerja ilmiah, peserta didik dilatih untuk berpikir kreatif, kritis, analitis, dan divergen.
4.    Keterampilan proses dalam Biologi mencakup keterampilan dasar dan keterampilan terpadu. Keterampilan dasar meliputi keterampilan mengobservasi, mengklasifikasi, berkomunikasi, melakukan pengukuran metrik, memprediksi/meramal, membahas, menyimpulkan, dan mengomunikasikan secara tertulis maupun lisan.
Dalam proses pembelajaran biologi diperlukan adanya suatu model dan pendekatan pembelajaran yang jelas, efektif dan humoris serta media yang digunakan sebagai alat dan bahan kegiatan pembelajaran. Sebagai contoh media kaset audio, merupakan media auditif yang mengajarkan topik-topik pembelajaran yang bersifat verbal seperti pengucapan (pronounciation) bahasa asing.
Kendala utama yang dirasakan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran Biologi di kelas adalah terlalu monotonnya pelaksanaan proses pembelajaran, yaitu terutama dalam penggunaan metode dan media serta evaluasi pembelajaran. Dimana menurut siswa metode yang dominan digunakan hanya ceramah dan tanya jawab, sedangkan medianya hanya meliputi papan tulis dan spidol sebagai alat tulis. Oleh karena itu demi mendorong siswa yang kurang termotivasi dalam mengikuti pembelajaran Biologi, maka harus ada pemanfaatan media pembelajaran yang relevan, terutama pemanfaatan media pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi.

C.    IT dan ICT dalam Bidang Pendidikan
Globalisasi telah memicu kecenderungan pergeseran dalam dunia pendidikan, dari pendidikan tatap muka yang konvensional ke arah pendidikan yang lebih terbuka. Ada pendapat yang meramalkan bahwa pendidikan masa mendatang akan bersifat luwes (flexible), terbuka, dan dapat diakses oleh siapapun juga yang memerlukan tanpa pandang faktor jenis, usia, maupun pengalaman pendidikan sebelumnya. Pendidikan mendatang akan lebih ditentukan oleh jaringan informasi yang memungkinkan berinteraksi dan kolaborasi, bukannya gedung sekolah. Namun, teknologi tetap akan memperlebar jurang antara di kaya dan si miskin.
Kecenderungan dunia pendidikan di Indonesia di masa mendatang adalah berkembangnya pendidikan terbuka dengan modus belajar jarak jauh (Distance Learning). Kemudahan untuk menyelenggarakan pendidikan terbuka dan jarak jauh perlu dimasukan sebagai strategi utama. Sharing resource bersama antar lembaga pendidikan/latihan dalam sebuah jaringan. Perpustakaan & instrumen pendidikan lainnya (guru, laboratorium) berubah fungsi menjadi sumber informasi daripada sekedar rak buku. Penggunaan perangkat teknologi informasi interaktif, seperti CD-ROM Multimedia, dalam pendidikan secara bertahap menggantikan TV dan Video. Dengan adanya perkembangan teknologi informasi dalam bidang pendidikan, maka pada saat ini sudah dimungkinkan untuk diadakan belajar jarak jauh dengan menggunakan media internet untuk menghubungkan antara siswa dengan gurunya, maupun mahasiswa dengan dosennya, melihat nilai siswa/mahasiswa secara online, melihat jadwal kuliah, mengirimkan berkas tugas yang diberikan guru/dosen dan sebagainya, semuanya itu sudah dapat dilakukan. Faktor utama dalam distance learning yang selama ini dianggap masalah adalah tidak adanya interaksi antara pendidik dan peserta didik. Namun demikian, dengan media internet sangat dimungkinkan untuk melakukan interaksi antara guru dan siswa baik dalam bentuk real time (waktu nyata) atau tidak.
Mewujudkan ide dan keinginan di atas dalam suatu bentuk realitas bukanlah suatu pekerjaan yang mudah tapi bila kita lihat ke negara lain yang telah lama mengembangkan web based distance learning, sudah banyak sekali institusi atau lembaga yang memanfaatkan metode ini. Bukan hanya skill yang dimiliki oleh para engineer yang diperlukan tapi juga berbagai kebijaksanaan dalam bidang pendidikan sangat mempengaruhi perkembangannya. Jika dilihat dari kesiapan sarana pendukung misalnya hardware, maka agaknya hal ini tidak perlu diragukan lagi.
Kondisi pemanfaatan IT dalam bidang pendidikan pada saat ini, baru memasuki tahap mempelajari kemungkinan untuk pengembangan dan penerapan IT tersebut. Secara teori, terdapat banyak manfaat dan kemudahan yang dapat dirasakan dengan pemanfaatan IT.  Namun dalam kondisi nyata,  pemanfaatan IT dalam bidang pendidikan masih belum optimal.
Hal ini disebabkan karena terdapat beberapa kendala penerapan IT di bidang pendidikan. Kendala tersebut antara lain adalah kemampuan tingkat manajerial di pemerintah yang sebagian besar tidak memiliki basis teknologi informasi khususnya teknologi internet, sehingga banyak sekali pekerjaan yang lebih efisien dengan penerapan teknologi informasi tidak dilirik atau bahkan dihindari penerapannya. Selanjutnya, tidak terdapat komitmen yang kuat dari pemerintah yang mengakibatkan kacaunya penerapan teknologi informasi khususnya teknologi internet di lingkungan pendidikan. Kalaupun institusi pendidikan ditekan untuk memanfaatkan teknologi informasi, biasanya kepala atau pimpinan institusinya tidak mengetahui dengan persis apa yang harus mereka lakukan, sehingga akhirnya mencari konsultan yang berbasis vendor tertentu dan berakibat seluruh proyeknya dikuasai oleh keuntungan semata, bukan menomorsatukan pemanfaatannya. Kemudian yang menjadi kendala penerapan IT di bidang pendidikan adalah alasan klise yang memang nyata, yaitu terlalu luasnya Indonesia, sehingga penerapannya IT belum merata. Masih banyak sarana- sarana di sekolah yang belum memadai untuk penerapan IT. Bagaimana mungkin sebuah sekolah akan menerapkan pembelajaran dengan media IT, jika masalah penyediaan komputer saja masih belum dapat diatasi
Keterbatasan biaya dan tenaga operasional juga menjadi kendala. Untuk bisa memanfaatkan IT tentu perlu adanya tenaga khusus yang mengelola media tersebut, karena tidak setiap guru mampu mengoperasikan media IT. Untuk sekolah yang mempunyai kemampuan baik tenaga maupun biaya tentu tidak akan menjadi masalah, namun bagi sekolah yang miskin dan tenaga gurunya pas-pasan, kondisi ini merupakan masalah baru yang sulit diatasi.
Ada beberapa solusi untuk pemecahan masalah tersebut. Antara lain, perlu disadari dan dipahami betul bahwa pemerintah punya peran yang sangat penting dalam peningkatan penggunaan teknologi informasi dan komputer untuk kemajuan bangsa Indonesia. Dibutuhkan komitmen dan kesungguhan dari pemerintah untuk menerapakan IT dalam bidang pendidikan. Lembaga pemerintah seperti Pustekkom,  yang mengemban misi untuk berperan serta aktif dalam memecahkan masalah-masalah pendidikan nasional dan pengembangan sumber daya manusia melalui pengembangan dan pendayagunaan teknologi komunikasi dan informasi, harus lebih dioptimalkan lagi kinerjanya. Kemudian , perlu diadakan penyuluhan-penyuluhan dan pencerdasan kepada masyarakat tentang manfaat penerapan IT terutama di dalam bidang pendidikan. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat Indonesia dalam pemanfaatan teknologi informasi. Guru-guru di sekolah hendaknya juga diberikan pelatihan agar dapat mengelola media pendidikan dengan IT, dengan demikian tidak diperlukan lagi tenaga khusus untuk pemeliharaaan media IT dan biaya yang dikeluarkan pihak sekolah pun akan berkurang. Untuk masalah infrastruktur yang belum merata di seluruh daerah, tentu sebagian besar merupakan tanggung jawab pemerintah. Namun untuk daerah-daerah yang sulit terjangkau oleh teknologi informasi, perlu diterapkan penggunaan alat-alat teknologi alternatif yang pada saat ini telah banyak ditemukan. Sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar, agar dapat merasakan manfaat dan kemudahan yang diberikan oleh teknologi informasi.

D.    IT dan ICT dalam Pembelajaran Biologi
Pendekatan penggunaan komputer dalam aktivitas pengajaran dan pembelajaran biologi khususnya dapat membuka peluang inkuiri yang otentik di dalam pelaksanaannya. Pendekatan ini memberikan kebebasan kepada siswa untuk mempraktekkan secara langsung apa yang dipraktekkan oleh ahli sains dan sering melibatkan penggunaan berbagai media pendukung dan peralatan saintifik untuk membina pengetahuan saintifik mereka sendiri melalui komputer, jadi pembelajaran yang terjadi bukan hanya sekedar pembelajaran mengingat. Proses ini akan menghasilkan pengetahuan dan pengalaman yang dapat menjangkau batasan ruang kelas. Selain itu penggunaan media teknologi informasi dapat memperbesar sense of curiosity siswa-siswa sebagai pembelajar aktif. Jadi tidak lagi berorientasi pada pembelajaran pasif selama ini, dimana siswa menunggu pengetahuan apa yang akan diberikan oleh gurunya kepada mereka.
Pendidikan merupakan salah satu faktor determinan kualitas SDM. Akses setiap guru untuk meningkatkan kapasitas diri dengan terus belajar teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi harus dibuka seluas-luasnya karena pendidikan merupakan hak asasi warganegara. Pendidikan adalah kunci untuk menciptakan, mengadaptasi dan menyebarkan ilmu pengetahuan.
Ada tiga hal penting yang harus dipikirkan ulang dalam modernisasi pendidikan melalui kurikulum, yaitu:
1.    Bagaimana kita belajar (how people learn)
2.    Apa yang kita pelajari (what people learn)
3.    Kapan dan dimana kita belajar (when and where people learn)
Dengan mencermati jawaban dari ketiga pertanyaan tersebut, maka jelaslah bahwa peranan teknologi informasi dalam bidang pendidikan dapat dirumuskan di dalam kurikulum. Salah satu permasalahan utama pendidikan adalah disparitas mutu pendidikan khususnya yang berkaitan dengan hal berikut:
1.    Ketersediaan pendidik dan tenaga kependidikan yang belum memadai baik secara kuantitas maupun kualitas, serta kesejahteraannya;
2.    Sarana prasarana belajar yang belum tersedia, dan bilapun tersedia belum didayagunakan secara optimal;
3.    Pendanaan pendidikan yang belum memadai untuk menunjang mutu pembelajaran;
4.    Proses pembelajaran yang belum efisien dan efektif;
5.    Penyebaran sekolah yang belum merata, ditandai dengan belum meratanya partisipasi pendidikan antara kelompok masyarakat, seperti masih terdapatnya kesenjangan antara penduduk kaya dan miskin, kota dan desa, laki-laki dan perempuan, antar wilayah
Permasalahan tersebut bertambah pelik karena tidak didukung dengan komponen-komponen utama pendidikan seperti kurikulum, sumber daya manusia pendidikan yang berkualitas, sarana dan prasarana, serta pembiayaan. Oleh karena itu pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan berupa pergantian kurikulum untuk menghasilkan output pendidikan yang semakin baik. Sejak tahun 1947 kurikulum pendidikan telah mengalami pergantian sebanyak tujuh kali, yang diterapkan dalam dunia pendidikan di Indonesia yaitu kurikulum 1947, 1964, 1968, 1974, 1984, 1994, serta kurikulum yang lebih menekankan pada kompetensi peserta didik yaitu berupa Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) atau kurikulum 2004 yang mulai diuji cobakan mulai tahun 2004 (Rustaman, 2004).
Standar nasional pendidikan merupakan acuan dan pedoman dalam mengembangkan kurikulum. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh satuan pendidikan. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 dan 23 tentang standar isi dan standar kompetensi lulusan merupakan sebagian acuan yang digunakan sekolah dalam menyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan. Peraturan Pemerintah Nomor 19 menyebutkan bahwa standar nasional pendidikan yang terdiri dari standar isi, stadar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.
Kebijakan kurikulum 2004 ternyata belum mampu untuk menjawab kebutuhan global sehingga lahir kurikulum baru yang disebut dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang berdasarkan atas potensi wilayah atau daerah.
Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan berdasarkan standar nasional memerlukan langkah dan strategi yang harus dikaji berdasarkan analisis yang cermat dan teliti. Analisis dilakukan terhadap tuntutan kompetensi yang tertuang dalam rumusan standar kompetensi dan kompetensi dasar; analisis mengenai kebutuhan dan potensi peserta didik, masyarakat, dan lingkungan; serta analisis peluang dan tantangan dalam memajukan pendidikan pada masa yang akan datang dengan dinamika dan kompleksitas yang semakin tinggi.
Upaya untuk memajukan pendidikan di suatu negara tidak terlepas dari peran seorang guru sehingga guru memegang peranan penting dalam menentukan tingkat keberhasilan suatu proses pembelajaran.
Terdapat tiga komponen penting yang menentukan kualitas pendidikan dan berperan langsung dalam proses belajar mengajar, yaitu:
1.    Siswa, merupakan subyek yang berperan dalam mencari pengetahuan, meningkatkan keterampilan dan yang berkaitan dengan pengetahuan yang dicari, sedangkan tugas siswa yaitu belajar untuk mengubah pola pikir.
2.    Guru, merupakan subyek yang memiliki peran, tugas, serta kewenangan dalam proses mengajar. Di sini guru berperan sebagai pengatur kelas, penyampai informasi dan sebagai evaluator terhadap keberhasilan siswa dalam menyerap pelajaran. 
3.    Proses pembelajaran, adalah proses yang memungkinkan kedua komponen tersebut (siswa dan guru) saling berinteraksi, melalui materi pelajaran yang perlu dikuasai guru dengan memperhatikan kesiapan siswa.
Pembelajaran merupakan suatu usaha manusia yang dilakukan dengan tujuan untuk membantu memfasilitasi belajar orang lain. Pembelajaran juga merupakan penyampaian suatu informasi melalui beberapa model pembelajaran dan aktivitas yang diarahkan untuk memudahkan pencapaian tujuan belajar secara spesifik dan sesuai yang diharapkan. Pembelajaran melibatkan beberapa hal yang terkait secara langsung dan berdampak terhadap berhasil tidaknya suatu proses pembelajaran.
Dari ketiga komponen tersebut, guru merupakan faktor utama yang perlu mendapatkan prioritas lebih besar karena guru berperan sebagai penyampai informasi, pengelola kelas (learning manager), dan sebagai evaluator. Media pembelajaran juga memengaruhi terhadap keefektifan dan kelancaran proses pembelajaran karena media berperan sebagai sarana untuk mempermudah dalam mencapai tujuan dalam proses pembelajaran.
Biologi sebagai ilmu yang cakupannya sangat kompleks, memerlukan media yang benar-benar mampu men-translate ilmu dari pendidik ke peserta didik. Penggunaan komputer sebagai media pembelajaran Biologi adalah untuk tujuan berikut:
1.    Untuk Tujuan Kognitif, dimana komputer dapat mengajarkan konsep-konsep, aturan, prinsip, langkah-langkah, proses, dan kalkulasi yang kompleks. Komputer juga dapat menjelaskan konsep tersebut dengan sederhana melalui penggabungan visual dan audio yang dianimasikan. Sehingga cocok untuk kegiatan pembelajaran mandiri.
2.    Untuk Tujuan Psikomotor, yaitu bentuk pembelajaran yang dikemas dalam bentuk games dan simulasi sangat bagus digunakan untuk menciptakan kondisi dunia kerja. Beberapa contoh program antara lain; simulasi pendaratan pesawat, simulasi perang dalam medan yang paling berat dan sebagainya.
3.    Untuk tujuan Afektif, bila program didesain secara tepat dengan memberikan potongan klip suara atau video yang isinya menggugah perasaan, pembelajaran sikap/afektif pun dapat dilakukan mengunakan media komputer. Adapun media yang bisa dimanfaatkan dalam pembelajaran Biologi yang berbasis teknologi informasi adalah media video dan komputer.
Media komputerisasi merupakan salah satu media yang perlu dimanfaatkan dalam pembelajaran Biologi, karena selain kemudahan dalam pembelajaran, media ini juga lebih mampu menstimulus peserta didik untuk menangkap materi yang disampaikan. Kesejahteraan bangsa tidak hanya diukur pada sumber daya alam dan modal yang bersifat fisik tetapi bersumber pada modal intelektual, sosial dan kepercayaan. Dengan demikian tuntutan untuk terus menerus, memutakhirkan pengetahuan khususnya ilmu biologi menjadi suatu keharusan. Mutu lulusan sangat memengaruhi ekonomi bangsa. Oleh karena itu bangsa yang berhasil adalah bangsa yang berpendidikan dengan mutu yang tingggi. Tentunya semua itu bisa terwujud jika dimulai dengan suatu perencanaan kurikulum yang baik dan ideal serta dinamis.
Dalam upaya meningkatkan standar mutu, peran pendidik untuk meningkatkan proses pembelajaran dengan lebih mementingkan pada strategi pembelajaran. Strategi tersebut mempunyai tujuan agar pembelajaran lebih berjalan produktif, bermakna dan menyenangkan. Pada prinsipnya belajar akan lebih bermakna jika anak mampu melaksanakan suatu proses atau praktek.
Banyak konsep pada pembelajaran biologi membutuhkan pemikiran dari pendidik untuk memberikan pengalaman secara langsung karena siswa perlu dibantu untuk mengembangkan sejumlah ketrampilan proses supaya mereka mampu memahami konsep. Untuk itulah sangat diperlukan pemanfaatan teknologi informasi dan teknologi komunikasi sebagai media yang mampu menjawab tuntutan tadi, sekaligus juga mampu mengikuti perkembangan zaman yang menuntut kecepatan informasi yang semakin tanpa batas.
Meningkatnya mutu pendidikan terlihat dari kualitas pembelajaran. Untuk itu pemanfaatan teknologi informasi dalam kurikulum pendidikan perlu diperhatikan. Untuk menjawab tantangan dunia, sudah saatnya pendidikan di negeri ini berfasilitas dan berbasis pada teknologi dan informasi. Dengan pesatnya perkembangan teknologi, tentunya semakin banyak media pembelajaran yang bisa dimanfaatkan dan diadakan oleh pemerintah sebagai pemegang otoritas tertinggi.
    Mengenalkan IT kepada dunia pendidikan kita melalui kurikulum dapat menjadi stimulan untuk memutarbalik proses pemunduran yang terjadi. Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, informasi menjadi semakin “berlimpah ruah” dan urgensi untuk mendapatkannya juga semakin meningkat. Namun kekayaan informasi yang segudang ini apabila tidak disertai dengan kunci gudangnya maka percuma saja. Maka diperlukan kunci untuk membuka gudang informasi ini, yakni IT. Namun untuk mencegah “kebanjiran” informasi, diperlukan tenaga edukatif sebagai pengontrol langsung di lingkungan akademik dan orang tua di lingkungan rumah untuk bersama-sama memberikan penjelasan secara gamblang tidak ditutup-tutupi kepada peserta didik. Sehingga dengan demikian mereka mendapatkan informasi yang tepat dan berguna. Guru dan dosen menjadi moderator yang akan membimbing murid-muridnya untuk mencari pengetahuannya sendiri melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya.
    Pada akhirnya, kemajuan teknologi informasi dan teknologi komunikasi akan berjalan seiring dengan maju dan berkembangnya pembelajaran biologi. Tidak bisa dipungkiri, peran media komputer dan internet menjadi sangat penting pada era digital sekarang ini. Peran guru biologi yang tadinya sangat vital, perlahan kini mulai terganti oleh adanya dunia digital yang memudahkan siapa saja, khususnya siswa untuk mengali lebih banyak informasi-informasi tentang kemajuan dunia biologi. Dengan demikian, siswa yang dituntut aktif untuk mengeksplorasi kekayaan informasi dan ilmu yang ada di internet yang jumlahnya tidak terbatas. Tentunya harus tetap ada peran guru untuk bisa mengontrol siswa-siswanya agar tidak melampaui batas dan tetap memperhatikan norma, etika dalam memanfaatkan teknologi yang mau tidak mau memang senantiasa hadir dan mengambil bagian penting dalam kehidupan kita di masa mendatang
    Pada akhirnya, perencanaan kurikulum yang disusun secara apik dan terintegerasi dengan roda zaman yang bisa menjawab bagaimana potret pendidikan kita di masa datang, khususnya dalam pembelajaran biologi yang berbasis IT dan ICT. Pengembangan kurikulum yang bebasis IT dan ICT sudah menjadi syarat mutlak untuk diterapkan dalam pendidikan di Indonesia dari tingkat dasar, menengah sampai tingkat pendidikan tinggi yang merata di seluruh pelosok negeri. Semua komponen penting di dalam pendidikan harus banyak berbenah diri untuk mengejar ketertinggalan kita dari negara lain. Kita harus tetap optimis bahwa pada suatu masa nanti, pendidikan Indonesia akan menjadi kiblat dari pendidikan dunia di masa datang yang berbasis pada IT dan ICT.
















BAB III
PENUTUP

Tuntutan zaman globalisasi tanpa kita sadari telah menggiring kita untuk mengenal dunia digital yang bersifat maya. Istilah teknologi informasi dan teknologi komunikasi pun lalu muncul seiring lajunya perkembangan dunia digital yang kian pesat. Perlahan teknologi informasi dan komunikasi telah menyusup masuk dan merambah berbagai aspek kehidupan social, termasuk pendidikan. Teknologi informasi berperan penting dalam dunia pendidikan, yaitu untuk mencetak sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing dalam menjawab tantangan global. Teknologi informasi sangat berperan sebagai fasilitas dan media pembelajaran sehingga mampu menstimulus siswa untuk menangkap materi yang disampaikan.
Dalam pembelajaran biologi yang berbasis digital, memungkinkan siswa untuk belajar dan mengenal biologi jauh lebih dalam lagi kapan saja dan dimana saja mereka ingin belajar. Tidak ada batasan ruang kelas ataupun kehadiran guru lagi untuk menggali materi-materi biologi yang ingin mereka pelajai. Semua tersedia tanpa batas di internet. Pembelajaran biologi pun akan menjadi lebih menyenangkan di sekolah, karena mampu menghadirkan ilustrasi-ilustrasi menarik melalui gambar atau audio-video yang dihadirkan guru untuk menjelaskan materi ajarnya. Diharapkan siswa akan memperoleh pemahaman yang lebih baik dengan bantuan media komputer, dan mampu menggugah sense of curiosity dari siswa terhadap biologi sebagai sains.
Untuk bisa mewujudkan pembelajaran yang semakin baik di seluruh penjuru negeri, pemerintah hendaknya semakin meningkatkan kualitas pendidikan yang berbasis teknologi informasi untuk mencetak SDM Indonesia yang berkualitas dan mampu menghadapi tantangan dunia global. IT dan ICT juga harus mendapatkan porsi yang lebih besar lagi di dalam kurikulum agar perkembangan kurikulum di Indonesia mampu mengikuti perkembangan dunia yang serba digital. Para pendidik hendaknya memanfaatkan teknologi informasi dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran biologi agar tercipta suasana belajar yang nyaman, menyenangkan dan lebih bermakna bagi peserta didik. Jika demikian, sudah barang tentu kualitas pendidikan akan meningkat signifikan dari sebelumnya. Dan kita semua wajib ikut berperan aktif untuk mendukung dan mengawasi jalannya pendidikan yang sudah diatur di dalam kurikulum sebagai barometer dan acuannya.




Daftar Pustaka

Abdullah, Abdul Ghani Kanesan, 2006, Kesediaan Dan Keberkesanan Penggunaan Komputer dalam Pengajaran dan Pembelajaran Biologi di Sebuah Sekolah Menengah, Jurnal Pendidikan 2006, Universiti Sains Malaysia.

http://pustekkom.depdiknas.go.id/ (Diakses tanggal 12 Pebruari 2011)

http://goresandilangitlangit.blogspot.com/2010/05/antara-dunia-it-dan-ilmu-biologi.html (Diakses tanggal 12 Pebruari 2011)

http://www.upscale.utoronto.ca/GeneralInterest/Harrison/Flash/ClassMechanics/ (Diakses tanggal 10 Pebruari 2011)

http://biologinfo.blogspot.com/2010/07/teknologi-informasi-sebagai-media.html (Diakses tanggal 10 Pebruari 2011)

http://teknologipendidikan.wordpress.com/2006/03/20/pustekkom-menyusun-alternatif-pemecahan-masalah-pendidikan/ (Diakses tanggal 12 Pebruari 2011)

Rustaman, N. dkk. 2004. Strategi Belajar Mengajar Biologi. Bandung : Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Pendidikan Indonesia.

Suhil Achmad, Said, 2008, Pengantar Information Communication Technology (ICT) dalam Pembelajaran yang Menyenangkan, Pekan Baru: Pelatihan ICT untuk Dosen PGSD Universitas Riau.

Usman, U, 2002, Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar